Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Blog EntryJan 18, '12 3:40 PM
for everyone

Menajamkan Mata Hati

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Setelah kita bersyukur kepada Allah Swt dan bershalawat kepada nabi kita Muhammad SAW. Kita berharap dan memohon semoga Allah Swt, meridhoi dan menerima amalan yang kita lakukan sebagai amalan ibadah yang diterima serta kita memohon pula untuk senantiasa dijadikan pengikut Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam yang setia hingga akhir hayat serta kita tidak kembali keharibaan-Nya kecuali dalam keadaan berserah diri kepada-Nya, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita di dalam surat Ali Imran ayat 102:
Artinya: “Dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan beragam Islam.” (QS. Ali Imran 102)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Suatu hari Baginda Rasulullah SAW sedang berjalan-jalan dan melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur’an. Surat yang dibacanya yaitu surat Ar-Rahman. Sampailah ia pada ayat yang ke 37 :

37. Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.(TQS ar-Rahman [55]: 37).

Seketika tubuhnya pun gemetar dan ia langsung menangis seraya bergumam,
“Ya Allah, apa yang bakal terjadi dengan diriku sekiranya langit terbelah (terjadi kiamat)? Sungguh malang nasibku!” Mendengar itu, rasulpun bersabda, “Tangisanmu menyebabkan para malaikat pun turut menangis.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Dikisahkan pula, bahwa Abdullah bin Rawahah ra suatu ketika tampak sedang menangis dengan sedihnya. Melihat itu, istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku menangis.” Abdullah bin Rawahah ra lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa aku bakal menyeberangi shirâth, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Itulah yang membuatku menangis.” (al-Kandahlawi, Fadhâ'il A'mâl, hlm. 565.)

Kisah-kisah semacam ini yang menggambarkan rasa takut para sahabat, juga generasi salafush-shalih, terhadap azab Allah SWT sangatlah banyak. Oleh karena itu wajarlah jika mereka adalah orang-orang yang selalu bersungguh-sungguh di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dan dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya , karena begitu dahsyatnya rasa takut mereka kepada-Nya. Benarlah apa yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh saat berkata, “Rasa takut kepada Allah SWT selamanya akan membawa kebaikan.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

“Kemudian bagaimana dengan generasi Muslim saat ini?” Sayang, rasa takut kepada Allah SWT sepertinya begitu sulit tumbuh pada kebanyakan kita. Yang terjadi malah sebaliknya. Kita seolah-olah menjadi orang yang paling berani menghadapi azab Allah SWT kelak pada hari Kiamat. “Bagaimana tidak?” Perilaku kebanyakan kita menunjukkan hal yang demikian.

Menerapkan hukum-hukum kufur, mencampakkan hukum-hukum Allah, menerapkan hukum secara tidak adil dan berlaku lalim terhadap rakyat, tidak lagi dipandang sebagai maksiat. Korupsi, kolusi dan suap-menyuap tidak lagi dipandang sebagai suatu dosa. Riba, judi, dan berlaku curang di dalam bisnis tidak lagi dianggap sebagai tindakan yang salah. Mengobral aurat, bergaul bebas, selingkuh dan zina tidak lagi dipandang sebagai perbuatan maksiat dan laknat. Demikian juga dengan meninggalkan shalat, melalaikan zakat dan puasa tidak lagi dianggap sebagai suatu dosa.

Perilaku demikian nyata sekali menunjukkan, bahwa kebanyakan generasi Muslim saat ini adalah orang-orang yang berani menantang azabnya Allah SWT yang sesungguhnya maha dahsyat!” Padahal jika ada setitik saja pada diri kita rasa takut kepada Allah SWT, kita tentu akan selalu berusaha untuk meninggalkan serta menjauhkan diri dari semua perbuatan-perbuatan terkutuk tersebut.

Sudah sepantasnyalah kita mesti merasa malu dengan generasi shalafush-shalih sebagaimana direpresantasikan oleh secuil kisah sahabat di atas tadi. Bagaimana tidak. Sebagian dari mereka sudah mendapatkan jaminan dari Allah SWT untuk masuk kedalam surga. Namun, rasa khawatir dan rasa takut kepada Allah SWT yang luar biasa sering kali menyelimuti sebagian besar qolbu dan hati mereka.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Simaklah kembali kekhawatiran dan rasa takut Umar bin Khaththab ra., salah seorang sahabat besar Rasulullah SAW yang telah dijamin masuk surga, saat beliau bertutur, “Pada hari Kiamat nanti, apabila diumumkan bahwa semua manusia akan masuk surga, kecuali hanya seorang saja yang akan masuk neraka, maka aku sangat khawatir bahwa yang seorang itu adalah aku, karena begitu banyaknya dosa-dosaku.”

Lalu bagaimana dengan kita? Meski jelas kita sangat jauh lebih banyak dosanya dari pada Umar bin Khaththab ra, dan belum pasti untuk mendapatkan 'tiket' masuk kedalam surga, namun rasa khawatir dan rasa takut kepada azabnya Allah SWT sepertinya sulit tumbuh di dalam diri kita. Kebanyakan dari kita tetap santai-santai saja, seolah-olah akan hidup abadi selama-lamanya, bahkan sepertinya kita sudah kebal dengan rasa takut kepada Allah SWT, dan tidak khawatir dengan azab-Nya yang pasti siapapun mustahil sanggup menanggungnya.

Jika sudah demikian, sepertinya kita perlu merenungkan kembali firman Allah SWT dalam sebuah hadis qudsi, “Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada seorang hamba. Jika ia tidak takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat. Jika ia takut kepada-ku di dunia maka Aku akan menghilangkan rasa takut pada dirinya di akhirat.”

Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Darani saat beliau berkata, “Kecelakaanlah bagi jiwa yang kosong dari rasa takut kepada Allah SWT!”
Lantas mengapa kebanyakan dari pada generasi Muslim saat ini begitu hampa dari rasa takut kepada Allah SWT? Tidak lain karena mata hatinya telah buta sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT (TQS al-Hajj [22]: 46).
“Maka sesungguhnya bukanlah mata mereka itu yang buta, akan tetapi yang buta ialah mata hati dari mereka yang ada di dalam dada.” (TQS al-Hajj [22]: 46).

Ya, kebanyakan mata hati kita memang sudah di butakan oleh gemerlapnya dunia yang sesungguhnya hanya bersifat sementara dan cenderung menipu. Akibatnya, kita tidak sanggup lagi melihat pahala dan dosa, serta tidak berdaya lagi menatap nikmat surga dan azab neraka yang sesungguhnya kekal dan abadi serta benar-benar 'nyata'.

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan petunjuknya kepada kita semua, untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan melaksanakan kebaikan-kebaikan sesuai dengan syariat. Dan Allah menjadikan hari-hari kita, menjadi hari-hari yang penuh dengan amal shalih yang akan membawa kita kepada kebahagiaan, ketenangan dan keselamatan baik didunia maupun di akhirat.

Serta senantiasa Allah berikan hidayah pada segala urusan kita, khususnya dalam menajamkan mata hati kita dan memberikan petunjuk kepada kita semua dalam menapaki jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah berikan nikmat kepada mereka, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada, serta orang-orang yang shalih, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.

Blog EntryJan 18, '12 3:22 PM
for everyone

Seorang muslim dituntut untuk berbuat ihsan dalam kehidupan. Ihsan mempunyai arti baik dan/atau berbuat baik. Dengan demikian, seorang muslim hendaknya mengisi hari2nya di dunia dengan banyak berbuat kebaikan.

Ada beberapa bentuk ihsan yang bisa dilakukan oleh seorang muslim.

Pertama, memberikan nikmat atau sesuatu yang disenangi kepada orang lain. Pemberian ini dipandang sebagai tolok ukur kesempurnaan iman seorang muslim.

Kedua, berbuat baik dan menyebarkan kebaikan. Sikap ini lahir karena pelakunya menyadari perbuatan itu baikk dan diperintahkan agama agar dilakukan. Sikap ihsan lahir karena didukung pengetahuan seseorang tentang kebaikan. Semakin banyak pengetahuan seseorang, maka ia harus semakin menjadi lebih baik. “Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (Al Baqarah(2):110) “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Baqarah(2):148)

Ketiga, berbuat baik karena menyadari perbuatan itu dibalas oleh ALLOH SWT dengan yg lebih baik, di dunia dan akhirat. Perbuatan baik seseorang tidak akan disia-siakan ALLOH SWT, meskipun sedikit jumlahnya. “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An Nisa(4):40)

Keempat, melakukan pekerjaan melebihi dari yang diwajibkan dengan tidak melanggar aturan, dan mengambil hak, kurang dari yg telah ditentukan. Bukan sebaliknya, melakukan pekerjaan kurang dari yg telah diwajibkan, sementara haknya ingin lebih besar dari yg pernah ditentukan/disepakati. Jadi, orang yg ihsan tidak pernah mengambil yg bukan haknya.

Dalam ibadah, ihsan diwujudkan dengan tidak hanya melaksanakan ibadah wajib, tetapi juga ibadah sunnah. Ihsan dalam ibadah tercapai jika pelaksanaannya memenuhi rukun, syarat, dengan yg terbaik dan ikhlas kepada ALLOH SWT. Ihsan diwujudkan pula dengan menghayati hakekat ibadah ketika pelaksanaannya dan sesudahnya.

Sementara, dalam kehidupan sehari-hari, ihsan diwujudkan dengan berusaha, melakukan yang terbaik dan menjadi yang terbaikk dalamm setiap aktifitas dengan tidak mengabaikan keterbatasan yang dia miliki.


LinkJan 8, '12 8:49 AM
for everyone
Link: http://sekolah.8k.com

sekolah


Blog EntryJan 8, '12 6:58 AM
for everyone

PENGEMBANGAN PROFESI GURU, KEPALA SEKOLAH DAN PENGAWAS SEKOLAH

Hubungi : Dr. H. Sulipan, M.Pd. HP. 085-222-02-9933 email : sulipan@yahoo.com

PENELITIAN DESKRIPTIF

Berorientasi Pemecahan Masalah

Dalam kaitannya dengan tugas mengajar guru maka jenis penelitian yang dilakukan guru sebaikinya adalah penelitian yang memiliki dampak terhadap pengembangan profesi guru dan peningkatan mutu pembelajaran. Salah satu jenis penelitian ditinjau dari tingkat eksplanasinya adalah penelitian deskriptif (Sugiyono: 2006, 5), jenis penelitian ini dapat dilakukan oleh guru dalam kaitannya dengan pembelajaran di kelasnya. Walaupun penelitian yang dilakukan oleh guru merupakan penelitian deskriptif, namun tetap harus mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan guru untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran (Suhardjono: 2005). Upaya tersebut dapat berupa penggunaan metode pembelajaran yang baru, metode penilaian atau upaya lain dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi guru atau dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran. Dilihat dari syarat penelitian deskriptif yang sesuai dengan kegiatan pengembangan profesi tersebut (mendeskripsikan upaya yang telah dilakukuan), maka apabila penelitian seperti itu dilakukan secara terencana oleh peneliti maka dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian Pre Experimental Design One Shot Case Study atau One-Group Pretest-Posttest Design (Sugiyono: 2006, 83). Namun demikian, karena pelaksanaan penelitian dilakukan setelah kejadian berlangsung (ini ciri penelitian deskriptif) maka tetap dikatakan sebagai penelitian deskriptif. Jenis penelitian deskriptif sendiri dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu (1) apabila hanya mendeskripsikan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat-kalimat penjelasan secara kualitatif maka disebut penelitian deskriptif kualitatif; (2) Apabila dilakukan analisis data dengan menghubungkan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka disebut deskriptif asosiatif; dan (3) apabila dalam analisis data dilakukan pembandingan maka disebut deskriptif komparatif. Dan karena untuk penelitian deskriptif yang dilakukan guru harus berorientasi pada pemecahan masalah atau peningkatan mutu pembelajaran  maka lebih tepatnya rancangan penelitian seperti itu disebut penelitian deskriptif yang berorientasi pemecahan masalah atau peningkatan mutu, 

A. Ilustrasi
Sebagai ilustrasi dapat digambarkan sebagai berikut. Pak Sahid seorang guru Fisika SMP kelas IX. Dia mempunyai masalah di kelas IX-A karena siswanya sering gaduh dan malas dalam mengikuti pelajaran. Berkali-kali pak Sahid sudah memperingatkan siswanya agar mengikuti pelajaran dengan baik, tetapi masih belum berhasil juga. Untuk itu dia berfikir untuk menemukan cara bagaimana menarik perhatian siswa agar mau mengikuti pelajaran dengan baik dan aktif dalam belajar. Untuk itu pak Sahid mencoba menerapkan metoda pembelajaran dengan metode penemuan/inkuiri ditambah penggunaan berbagai media pembelajaran. Mulailah dirancang langkah-langkah pembelajaran tersebut dan dituangkannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Selanjutnya pak Sahid mulai menerapkan metode tersebut yang ternyata mampu menarik siswanya sehingga mau mengikuti pelajaran dengan baik dan lebih aktif dari sebelumnya. Selama pelajaran berlangsung pak Sahid mencatat segala tingkah laku siswa, mana hal-hal yang membuat siswa senang dan termotivasi, dan mana yang kurang menarik siswa. Dia juga merekam nilai yang diperoleh siswa sebelum dan setelah metode tersebut diterapkan.
Pada waktu setelah kejadian berlangsung dan karena melihat keberhasilannya tersebut kemudian pak Sahid ingin mengetahui lebih mendalam tentang sebab-sebab siswa tidak tertarik dan kemudian menjadi tertarik untuk mengikuti pelajaran. Dia mulai menanyai (wawancara) siswanya tentang apa yang membuat menarik dan mana yang tidak menarik, mana yang perlu dilakukan dan mana yang tidak perlu dan sebagainya. Selain itu dia juga membuat angket yang dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam pendapat siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkannya. Dari hasil wawancara, angket maupun hasil penilaian, kemudian dilakukan analisis dan pembahasan tentang penyebab ketidaktertarikan dan penyebab ketertarikan siswa, hal-hal yang membuat siswa bergairah dan sebagainya. Selanjutnya pak Sahid menuliskan segala pengalamannya dalam bentuk laporan penelitian, dituliskannya upaya yang telah dilakukan tersebut secara sistematis mulai dari latar belakang mengapa dia menerapkan metode pembelajaran baru, rumusan masalahnya, landasan teori dan metode penelitian yang digunakan serta teknik analisis/pembahasan dan akhirnya menyusun kesimpulan hasil penelitiannya.
Demikian tadi, pak Sahid sudah melakukan penelitian deskriptif kualitiatif tentang upaya yang telah dilakukan untuk memecahkan masalah dalam proses pembelajaran di kelasnya.

B. Persiapan Penelitian
Sebuah penelitian beranjak dari masalah yang ditemukan atau dirasakan. Yang dimaksud masalah adalah setiap hambatan atau kesulitan yang membuat seseorang ingin memecahkannya. Jadi sebuah masalah harus dapat dirasakan sebagai satu hambatan yang harus diatasi apabila kita ingin melakukan sesuatu. Dalam arti lain sebuah masalah terjadi karena adanya kesenjangan (gap) antara kenyataan dengan yang seharusnya. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.
Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka lalu perlu dirumuskan. Perumusan ini penting, karena berdasarkan rumusan tersebut akan ditentukan metode pengumpulan data, pengolahan data maupun analisis dan peyimpulan hasil penelitian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah, yaitu: Sebaiknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, padat dan jelas, memberi petunjuk tentang memungkinkannya pengumpulan data, dan cara menganalisisnya.
Setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep yang dapat dijadikan landasan teoritis penelitian yang akan dilakukan itu. Hal lain yang lebih penting makna dari penelaahan kepustakaan adalah untuk memperluas wawasan keilmuan bagi para calon peneliti, karena kita sadari bahwa semua informasi yang berkaitan dengan keilmuan dalam hal ini teori ataupun hasil penelitian para ahli semua sudah tertuang dalam kepustakaan.
Selanjutnya ditentukan metode pengumpulan data, yang diantaranya meliputi metode wawancara, angket, pengamatan dan dokumentasi. Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara, maka di dalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu. Secara minimal alat bantu tersebut berupa rambu-rambu pertanyaan yang akan ditanyakan dan biasanya disebut pedoman wawancara. Untuk memperoleh jawaban secara tertulis dari responden, digunakan angket atau kuesioner. Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memproleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Istilah angket digunakan untuk menyebutkan metode maupun instrumen. Jadi dalam menggunakan metode angket berarti instrumen yang digunakan adalah angket. Selanjutnya data dapat diambil melalui proses pengamatan atau observasi. Pengamatan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengamatan non sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan dan pengamatan sistematis, yang dilakukan oleh pengamatan dengan menggunakan pedoman dalam melakukan pengamatan. Saat melakukan penelitian di mana sumber datanya berupa tulisan atau dokumen, digunakan metode dokumentasi.

C. Pelaksanaan Pengumpulan dan Pengolahan Data
Setelah peneliti melakukan persiapan seperti dijelaskan di atas, maka selanjutnya dilakukan pengumpulan data. Untuk seorang guru, pengumpulan data dapat dilakukan di kelasnya sendiri. Dalam hal rancangan penelitian deskriptif aplikatif, maka pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan angket (bagi siswa SMP, SMA, SMK) atau wawancara (bagi siswa TK atau SD) dan data yang dikumpulkan misalnya tentang tanggapan siswa atas metode pembelajaran baru yang telah dilakukan guru atau hasil observasi atas sikap siswa pada saat guru menyajikan pembelajaran dengan metode baru. Data lain yang perlu dikumpulkan misalnya adalah nilai hasil belajar siswa, yang diperoleh dari metode dokumentasi, dan keaktifan siswa, yang diperoleh dari hasil pengamatan.
Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, perlu segera dilakukan pengolahan data. Selanjutnya data yang telah diolah tersebut disajikan dalam bentuk tabel, diagram, dan lain-lain agar memudahkan dalam pengolahan serta analisis selanjutnya.

D. Analisis dan Penarikan Kesimpulan
Data hasil olahan tersebut kemudian harus dianalisis, data deskriptif kualitatif sering hanya dianalisis menurut isinya dan karenanya analisis seperti ini juga disebut analisis isi (content analysis). Dalam analisis deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel data yang berisi frekuensi, dan kemudian dihitung mean, median, modus, persentase, standar deviasi atau lainnya. Untuk analisis statistik, model analisis yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitiannya. Apabila penelitian yang dilakukan guru hanya berhenti pada penjelasan masalah dan upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan (untuk meningkatkan mutu pembelajaran), maka setelah disajikan data hasil wawancara, angket, pengamatan atau dokumentasi, maka selanjutnya dianalisis atau dibahas dan diberi makna atas data yang disajikan tersebut. Tetapi apabila penelitian juga dimaksudkan untuk mengetahui tingkat hubungan maka harus dilakukan pengujian hipotesis sebagaimana hipotesis yang telah ditetapkan untuk diuji. Misalnya uji statistik yang dilakukan adalah uji hubungan, maka akan diperoleh hasil uji dalam dua kemungkinan, yaitu hubungan antar variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara sampel-sampel yang diteliti, dengan taraf signifikansi tertentu, misalnya 5% atau 10%., atau dapat terjadi hubungan antar variabel penelitian atau perbedaan antara sampel yang diteliti tidak signifikan. Apabila ternyata dari hasil pengujian diketahui bahwa hipotesis alternatif diterima (hipotesis nol ditolak) berarti menyatakan bahwa dugaan tentang adanya saling hubungan atau adanya perbedaan diterima sebagai hal yang benar, karena telah terbukti demikian. Sebaliknya dalam kemungkinan hasil yang kedua dinyatakan hipotesis alternatif tidak terbukti kebenarannya, maka berati hipotesis nol yang diterima. Dengan telah diambilnya hasil pengujian mengenai penerimaan atau penolakan hipotesis maka berati analisis statistik telah selesai, tetapi perlu diingat bahwa pelaksanaan penelitian masih belum selesai, karena hasil keputusan tersebut masih harus diberi interprestasi atau pemaknaan.
Hasil analisis dari pengujian hipotesis dapat dikatakan masih bersifat faktual, untuk itu selanjutnya perlu diberi arti atau makna oleh peneliti. Dalam pemaknaan sering kali hasil pengujian hipotesis penelitian didiskusikan atau dibahas dan kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian dipastikan seorang peneliti mengharapkan hipotesis penelitiannya akan terbukti kebenarannya. Jika memang demikian yang terjadi, maka kemungkinan pembahasan menjadi tidak terlalu berperan walaupun tetap harus dijelaskan arti atau maknanya. Tetapi jika hipotesis penelitian itu ternyata tidak tahan uji, yaitu ditolak, maka peranan pembahasan menjadi sangat penting, karena peneliti harus mengekplorasi dan mengidentifikasi sumber masalah yang mungkin menjadi penyebab tidak terbuktinya hipotesis penelitian. Akhirnya dalam kesimpulan harus mencerminkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Jangan sampai antara masalah penelitian, tujuan peneltian, landasan teori, data, analisis data dan kesimpulan tidak ada runtutan yang jelas. Apabila penelitian mengikuti alur atau sistematika berpikir yang runut seperti itu maka penelitian akan dapat dikatakan telah memiliki konsistensi dalam alur penelitiannya.


Blog EntryJan 1, '12 6:46 AM
for everyone

Hukum Sogok dan Implikasinya Terhadap Akidah Seorang Muslim

Pertanyaan :

Assalammu'alaikum

Saya berbahagia sekali dengan isi rubrik ini, dimana banyak masalah yang dapat saya peroleh jawabannya. Kemudian, dalam kehidupan kita sehari hari akhir-akhir ini, masalah sogok-menyogok atau suap menyuap sudah sangat merajalela. Sudah masuk ke semua lini. Menurut isu yang berkembang, hampir tidak ada lagi masyarakat yang terlepas dari bencana ini, mulai tingkatan masyarakat paling rendah hingga ke paling tinggi terlibat ataupun terpercik akibat dari kejahatan itu.

Saya ingin bertanya, apa hukum risywah (sogok) dan apa implikasinya terhadap akidah seorang muslim serta apa akibat yang timbul karenanya di dalam kehidupan bermasyarakat? Demikian, dan atas perhatian serta jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.
terima kasih..

Wassalam

Qeisha


Jawaban :

Wa'alaikumussalam wr wb

Mba Qeisha yang dirahmati Allah, betul apa yang mba sampaikan tentang bencana risywah atau sogok ini. Ia sudah dianggap biasa dengan alasan kondisinya memang memungkinkan untuk melakukannya, juga karena tidak ada sanksi yang tegas bagi penyogok atau yang disogok. Akibatnya, budaya jelek ini merata dari tingkat paling rendah sampai paling tinggi dalam strata sosial.

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke tempat orang Yahudi untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dibayarnya, kemudian mereka menyodorkan sejumlah uang. Maka kata Abdullah kepada orang-orang Yahudi itu: “Suap yang kamu sodorkan kepadaku itu adalah haram. Oleh karena itu kami tidak akan menerimanya.” (H.R. Malik).

Di sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap dan yang menjadi perantara.” (H.R. Ahmad dan Hakim).

Dari dua hadis di atas, nampak jelas bahwa tindakan sogok menyogok ini masuk dalam kategori haram dan pelakunya mendapatkan laknat. Bagi seorang muslim tentu saja berusaha untuk terhindar dari melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT dan Rasul Nya.

Implikasi atau akibat yang bisa ditimbulkan dari budaya suap ini ditengah-tengah masyarakat tentu saja adalah kerusakan masyarakat itu sendiri. Paling tidak ada dua hal mendasar yang mengapa masyarakat kita doyan melakukan perbuatan ini: pertama; pemikiran yang berkembang sekarang ini adalah sekulerisme, asas manfaat, dan kenikmatan jasmani (permisivisme). Wajar saja kalau sekarang ini orang lebih suka kongkalingkong karena memang dikondisikan demikian. Kedua; Budaya suap menyuap dan tindakan maksiat lainnya, seperti korupsi, manipulasi, pergaulan bebas terlahir dari masyarakat yang perasaannya tidak islami, yang individunya tidak menaruh rasa benci terhadap perbuatan-perbuatan tersebut.

Masyarakat yang tumbuh dan berkembang dengan keadaan seperti ini, hanya akan membawa kepada kerusakan dan kehancuran massal. Masyarakat yang terlahir dengan akhlak untuk menyelamatkan dan mendapatkan keuntungan sendiri, walaupun harus mengorbankan kepentingan orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu makan harta benda kamu di antara kamu dengan batil dan kamu ajukan perkara itu kepada penguasa (hakim) dengan maksud supaya kamu makan sebahagian dari harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 188).

Wassalaamualaikum wr wb

Salahuddin El Ayyubi


Blog EntryJan 1, '12 6:44 AM
for everyone

Hakikat Dzikrullah

Oleh: Abu Abdillah Arief

Allah swt berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."  (QS. Ar-Ra’d: 28).

Syekh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah telah menyebutkan manfaat-manfaat dzikir dalam kitabnya, Al-Wabil ash-Shayyib. Di antara faidah-faidah dzikir yang begitu agung, menurut Ibnul Qayyim, adalah dzikir dapat mendatangkan kebahagiaan, kegembiraan, dan kelapangan bagi orang yang melakukannya, serta dapat melahirkan ketenangan dan ketenteraman di dalam hati orang yang melakukannya. Sebagaimana firman Allah di atas.

Makna firman Allah "dan hati mereka tenteram" adalah hilangnya segala sesuatu (yang berkaitan dengan) kegelisahan dan kegundahan dari dalam hati. Dan dzikir tersebut akan menggantikannya dengan rasa keharmonisan (ketentraman), kebahagiaan, dan kelapangan.

Dan maksud firman-Nya "hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" adalah sudah nyata, dan sudah sepantasnya hati (manusia) tidak akan pernah merasakan ketentraman, kecuali dengan dzikir (mengingat) Allah SWT.

Bahkan, sesungguhnya dzikir adalah penghidup hati yang hakiki. Dzikir merupakan makanan pokok bagi hati dan ruh. Apabila (jiwa) seseorang kehilangan dzikir ini, maka ia hanya bagaikan seonggok jasad yang jiwanya telah kehilangan makanan pokoknya. Sehingga tidak ada kehidupan yang hakiki bagi sebuah hati, melainkan dengan dzikrullah (mengingat Allah).

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, "Dzikir bagi hati, bagaikan air bagi seekor ikan. Maka, bagaimanakah keadaan seekor ikan jika ia berpisah dengan air?”

Dari penjelasan yang begitu gamblang di atas, jelaslah sesungguhnya tidak ada penawar bagi orang yang hatinya gersang dan selalu gelisah, resah, dan gundah, melainkan hanya dengan dzikrullah.

Dzikrullah dapat dilakukan dengan dua cara, dengan mengingat Allah dan banyak berdzikir dengan bertasbih, bertahmid, bertahlil (mengucapkan Laa ilaha illallaah), ataupun bertakbir. Dan dengan memahami makna-makna Alquran dan hukum-hukumnya. Karena di dalam Alquran terdapat dalil-dalil dan petunjuk-petunjuk yang jelas, serta bukti kebenaran yang nyata.

Namun, yang amat disayangkan, masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami hal ini. Bahkan, untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, justru mencari-cari solusi selainnya. Padahal kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa yang hakiki tidaklah mungkin dihasilkan melainkan hanya dengan dzikrullah.

Menurut Syekh Ibnul Qayyim, sesungguhnya, hati tidak akan (merasakan) ketenangan, ketenteraman, dan kedamaian, melainkan jika pemiliknya berhubungan dengan Allah SWT (dengan melakukan ketaatan kepada-Nya).

"Barangsiapa yang tujuan utama (dalam hidupnya), kecintaannya, rasa takutnya, dan ketergantungannya hanya kepada Allah, maka ia telah mendapatkan kenikmatan dari-Nya, kelezatan dari-Nya, kemuliaan dari-Nya, dan kebahagiaan dari-Nya untuk selama-lamanya," jelas Ibnul Qayyim.

Penjelasan ini juga menujukkan pemahaman, bahwa jika seseorang meninggalkan ketaatan kepada Allah SWT, atau bahkan bermaksiat kepada-Nya, maka hatinya akan sempit, gersang, selalu gelisah, resah, dan gundah. Adapun kemaksiatan yang terbesar adalah syirik, dan Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik sampai ia bertaubat sebelum ia mati.

Adapun kadar kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa seseorang, itu sangat bergantung kepada sejauh mana kedekatannya kepada Allah. Ibnul Qayyim kembali mengatakan, kelezatan (yang dirasakan oleh hati) setiap orang, bergantung pada sejauh mana keinginannya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan (keinginannya dalam meraih) kemuliaan dirinya.

"Orang yang paling mulia jiwanya, yang paling tinggi derajatnya dalam merasakan kelezatan (dalam hatinya), adalah (orang yang paling) mengenal Allah, yang paling mencintai Allah, yang paling rindu dengan perjumpaan dengan-Nya, dan yang paling (kuat) mendekatkan dirinya kepada-Nya dengan segala hal yang dicintai dan diridhai oleh-Nya," papar Ibnul Qayyim.

Itulah dzikrullah dan tha’atullah (taat kepada Allah), sebagai kunci utama untuk membuka hati seseorang dalam merealisasikan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwanya.

Sedangkan tingkatan tha’atullah yang paling tinggi dan agung adalah tauhidullah (mentauhidkan Allah). Dan (sebaliknya), tingkatan maksiat yang paling besar dosanya dan paling buruk akibatnya, adalah asy-syirku billah (menyekutukan Allah SWT).

Dengan kata lain, orang yang paling berbahagia, tenteram, dan tenang jiwanya adalah seorang Muslim yang bertauhid dan merealisasikan tauhidnya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia ini, dan tidak merasakan kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman jiwa yang hakiki dan abadi, adalah orang yang musyrik dan bermaksiat kepada Allah SWT.


Blog EntryDec 31, '11 9:38 PM
for everyone
Momentum pergantian tahun, umumnya dirayakan dengan meriah. Penuh sorak-sorai dan gemuruh tiupan terompet yang beraneka ragam bunyinya. Gemerlap lampu tersebar di berbagai sudut kota. Indahnya pancaran kembang api di angkasa mewarnai kegelapan langit pada detik-detik pergantian tahun. Dari berbagai macam persiapan dan berbagai macam rencana yang telah mereka lakukan tidaklah banyak manfaat yang bisa diambil dari perayaan tahun baru tersebut.

Makna Bahagia

Posted: 30 Dec 2011 04:41 PM PST

Assalamu'alaikum wr.wb. - selamat pagi sahabat,

"Bahagia adalah sebuah kesadaran tentang perasaan mengalami kemajuan."

Kemajuan apa yang engkau alami selama tahun 2011?
Dalam hal apa kemajuan terbesar terjadi?
Dalam hal apa kemajuan terkecil terjadi?

Besar atau kecil, untuk semuanya engkau pantas berbahagia hari ini.

Kemajuan apa yang engkau inginkan terjadi selama 2012 nanti?
Dalam hal apa kemajuan terbesar engkau inginkan?

Sadarilah, engkau juga berhak merasa berbahagia dengan kemajuan keinginanmu di hari ini yang tidak merencanakan kemajuan kecil untuk setahun depan.

Ada enam hal yang perlu engkau majukan secara seimbang,

1. Spiritual
2. Cinta, Keluarga, dan Hubungan
3. Karir, Bisnis, dan Finansial
4. Kondisi Fisik
5. Hubungan Sosial
6. Pengembangan Diri, Self Mastery, dan Self Growth

Begitulah, pagi ini saja engkau sudah berbahagia tiga kali.

Kira-kira, untuk apa Tuhan masih berkehendak engkau tetap hidup sampai hari ini?

Ups, sekarang jadi empat.

Tetap semangat di 2012!

Ikhwan Sopa
Komunikasi, Motivasi, Leadership http://milis-bicara.blogspot.com


Blog EntryDec 26, '11 6:46 AM
for everyone

Cemas Atau Bosan?

Posted: 22 Dec 2011 07:49 PM PST

Selamat siang sahabat,

Kita mungkin sering lupa, bahwa jika kenyataannya kita masih mampu bertahan hingga hari ini, sebenarnya kita telah begitu pandai dan ahli dalam mendemonstrasikan sebuah kemampuan, yaitu menjaga keseimbangan.

Itu sebabnya, jika selama ini kita pernah jatuh maka kita telah bangkit lagi, dan itu juga sebabnya jika selama ini kita telah seimbang, maka kita cenderung ingin belajar melangkah lebih jauh.

Kepandaian dan keahlian kita itu, adalah kemampuan untuk menyeimbangkan daya tarik dari dua hal fitrah yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Dua hal itu adalah 'Tantangan' dan 'Kemampuan'.

Mereka yang bertahan atau makin berhasil hingga hari ini, adalah mereka yang terus berupaya berada di tengah keduanya.

Mereka yang hidupnya sedang 'membosankan', sebenarnya merasakan betapa kemampuannya sedang lebih besar dari tantangan yang dihadapinya. Ini, mungkin sekedar persepsi atau memang sesuai kenyataan.

Mereka yang hidupnya sedang 'mencemaskan', sebenarnya merasakan betapa tantangan yang dihadapinya sedang lebih besar dari kemampuannya. Inipun, mungkin sekedar persepsi atau memang sesuai kenyataan.

Sahabat, yang manakah diri kita hari ini?
Apakah engkau sedang 'bosan' atau engkau sedang 'cemas'?
Apakah itu persepsi atau memang sesuai kenyataannya?

Membaca status ini, insya Allah engkau mulai mengerti harus bagaimana.

Sukses selalu!

Ikhwan Sopa
Komunikasi, Motivasi, Leadership http://milis-bicara.blogspot.com

Blog EntryDec 26, '11 6:36 AM
for everyone

Syi’ir Gus Dur

Posted: 23 Dec 2011 01:33 AM PST

Mulanya sering mendengar dari tayangan TV9, mengingat sudah lama terdampar di dunia yang sedikit jauh dari hal-hal seperti ini jadi sedikit ketinggalan.

Selamat menikmati.

Ngawiti ingsun nglaras syi’iran # Kelawan muji maring pengeran

Kang paring rohmat lan kenikmatan # Rino wengine tanpo pitungan

Rino wengine tanpo pitungan…

Duh bolo konco priyo wanito # Ojo mung ngaji syare’at bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco # Tembe mburine bakal sangsoro

Tembe mburine bakal sangsoro…

Akeh kang apal Qur’an Haditse # Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke # Yen isih kotor ati akale

Yen isih kotor ati akale…

Gampang kabujuk nafsu angkoro # Ing pepaese gebyare donyo
Iri lan meri sugihe tonggo # Mulo atine peteng lan nisto

Mulo atine peteng lan nisto…

Ayo sedulur jo nglaleake # Wajibe ngaji sa’pranatane
Nggo ngandelake iman tauhide # Baguse sangu mulyo matine

Baguse sangu mulyo matine…

Kang aran sholeh bagus atine # Kerono mapan seri ngelmune
Laku thoriqot lan ma’rifate # Ugo haqiqot manjing rasane

Ugo haqiqot manjing rasanee…

Al-Qur’an Qodim wahyu minulyo # Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangan guru waskito # Den tancepake ing jero dodo

Den tancepake ing jero dodo…

Kumantil ati lan pikiran # Mrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat rosul dadi pedoman # Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Alloh kang moho suci # Kudu rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadlohi # Dzikir lan suluk jo nganti lali

Dzikir lan suluk jo nganti lali…

Uripe ayem rumongso aman # Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo nadjan pas-pasan # Kabeh tinakdir saking pengeran

Kabeh tinakdir saking pengeran…

Kelawan konco dulur lan tonggo # Kang podo rukun ojo dursilo
Iku sunnahe rosul kang mulyo # Nabi Muhammad panutan kito

Nabi Muhammad panutan kito…

Ayo nglakoni sekabehane # Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senadjan asor toto dzohire # Ananging mulyo maqom drajate

Ananging mulyo maqom drajate…

Lamun palastro ing pungkasane # Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh swargo manggone # Utuh mayite ugo ulese

Utuh mayite ugo ulese…

 

*) disadur tanpa perubahan dari SantriPegon


Blog EntryDec 9, '11 5:25 AM
for everyone
Dec 7, '11 8:07 AM
oleh Abuuntuk grup

Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan Akhirat, ia didatangi oleh segerombol Malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari Surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. 

Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata, "Wahai jiwa yang baik, bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah". 

Segera ruh orang Mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para Malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejap pun berada di tangan Malaikat Maut. Para Malaikat segera mengambil ruh orang Mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari Surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang belum pernah ada di Dunia. 

Selanjutnya para Malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke Langit. Tidaklah para Malaikat itu melintasi segerombolan Malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya, "Ruh siapakah ini, begitu harum." 

Malaikat pembawa ruh itupun menjawab, "Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di Dunia ia pernah dipanggil dengannya)." 

(HR. Imam Ahmad, dan Ibnu Majah)


Blog EntryDec 9, '11 5:12 AM
for everyone

What Drew Me to Islam

 By Andrew Howie

 “It is wrong always, everywhere, and for anyone, to believe anything upon insufficient evidence.” -  William K. Gifford

 “Let there be not compulsion in religion; truth stands out clearly from error.” [Qur'an 2:256]

 

Most Christian parents of college-age students with whom I have been personally acquainted express great fear that their son or daughter will “lose faith” in college. This fear even ranks above that of many of the more obvious temptations of college life, such as drug use, alcohol use, or promiscuity. Concern about the appeal of atheism and agnostic*ism in secular American universities is widespread in East Texas, where I was born and which I still call home. The airwaves (of Christian radio stations) frequently feature stories about formerly-devout Christian teens going off to major universities and having their faith “debunked” by Ivory Tower academics intent on luring young adults away from their roots.

 My family is typically East-Texan in most ways. Having become known as “the smart one in the family” (I say this in all humility), I was seen off to college with both great anticipation and great anxiety. As I progressed through college, I was closely scrutinized and frequently admonished to keep on the lookout for rogue professors, lest  I fall into their trap and  “become too smart to believe.”

 In college, I began to question and re-examine my religious-cultural background. Where did I stand as an individual? What kind of person would I choose to be? Would I follow that which I had always been taught, settle close to home and live the same life I had always lived? Would I become an atheist or an agnostic like my family feared I would? But why does being a rational, scientific, intellectually honest person mean I have to be an atheist or an agnostic? Who can use science to “debunk” God? “I want to be smart,” I said to myself, “and I also want to believe. So how is it that one can be too smart to believe?”

 The answer, I found, ten thousand questions and answers later, was: you cannot. This January, I embraced Islam, a decision that was informed in equal measure by my mind and my personal religious sensibilities. It was the culmination of a great emotional and intellectual battle to secure not just my faith in God but also my integrity as a thinking person, beleaguered as I was by the false fear that true faith may come only at the expense of intellect.

 At Rhodes, the inimitably Southern Liberal Arts College which has become my second home, I had the opportunity to meet Shaykh Yasir Qadhi, who took up a position there in the Religious Studies Department in the fall of 2010. In the spring he offered a course that focused on modern Islamic political movements in which I was eager to enroll. Although the course did not cover general Islamic knowledge, such as history and theology, from the course I learned one of the most important lessons I have acquired in a classroom: the great need for Muslims to speak convincingly to non-Muslim westerners who can only see the worst of the Islamic world. “Ninety percent,” Sh. Qadhi said once in class, “of the facts you learn in classrooms you will forget.

What will be important is that you learned how to think.” Any informed Muslim in America knows to stay away from mainstream network news sources such as Fox or CNN, which, prioritizing ratings and revenue over the truth, often pander to their audiences with half-factual stories reported in a loud and emotionally appealing style. But how do you talk to someone whose facts all come from sources that present an insipid and uncritical view of the Muslim world? Who has been taught all their life that the Israeli-Palestinian conflict is a mysterious, complicated struggle as old and time, to which no one remembers the cause – perhaps something vague about an “incompatibility of values” – and to which there never has been a solution? Who views the world in terms of an ultimate “clash of civilizations,” with Christianity on one side of the line and Islam on the other?

 I agree strongly with Sh. Qadhi’s statement, quoted in a recent New York Times article, that, as an American Muslim, “you feel your faith.” As a religious minority, you are forced to make choices that Muslims don’t frequently have to make in Muslim-majority countries. You are forced to choose on a daily basis what are to be your priorities. In post-9/11 America, you must be more informed, poised, and persuasive on key issues than the majority – you must know all of their sources better than they do as well as all of your own. Your identity is a struggle for you; a struggle that channels your strengths, keeps you diligent and prevents you from hypocrisy.

 A few weeks ago, Sh. Qadhi asked me over lunch what made me decide to come to Islam. After all, bowing one’s head to the ground, fasting, and studying Arabic are all activities that the majority of Americans do not engage in on a regular basis.

From the perspective of the mainstream, European and American mentality, many of the practices of our religion seem “foreign,” indelibly “Eastern.” My tongue was held by the immediacy of Sh. Qadhi’s question and by the force and number of possible replies that raced through my mind; in this deadlock I produce only a few half-considered thoughts. But had I had more time to think about my answer, I would have replied as follows.

 

Islam became normal for me because it is normal. It is a religion of honesty, human dignity, and good old common sense.  Its doctrines are easily intelligible, correspond with the universal inclinations of human thought, and can be expressed through clear, unequivocal use of human language. Islam requires no suppression of the intellect nor blinding of the senses to believe in; there is no conflict between reason and faith in Islam. Islam is not a foreign culture – it is equally at home in Yemen as in Yakutsk. Islam is a system adaptable to all times and places; the timeless and inextinguishable precepts which form its message, delivered countless times across the span of time have stirred the hearts of the greatest men to perform the most significant actions in history. “World history,” I told Sh. Qadhi, “did not make sense to me until I began to understand Islam.”

 But how did I come to see all of this? Perhaps I should attribute it to the quality of my sources. It is not hard to accept the truth of Islam – what is hard is abandoning all the problems you had before Islam.

 Islam stands on its own merits. Chief among these is its simplicity. All of the precepts of our religion extend from one premise: the premise that Allah (subhanahu wa ta’ala), to the extent that we are capable of understanding Him, exists. From the fact that Allah (subhanahu wa ta’ala), the Ever-Merciful, is, it proceeds that He would furnish some means whereby those of His creations which are endowed with free will, human beings, might be brought into the fold of that mercy through which they would be instructed in the correct way to believe and the correct way to live. Thus proceeding from His mercy, Allah sent prophets to mankind to warn them. It is natural that such a God would also furnish signs through his creation so that man would come to have understanding of these truths by observing and investigating the world around him. If one accepts belief in the One, All-Powerful and Ever Merciful God, this entails belief in His revelations. If one believes in His revelations, it is natural that one should choose to follow that which they teach – i.e., to be a Muslim, one who submits to the will of God.

 Belief in this All-Powerful, All-Merciful God has always been absolutely central to my identity; it was only just before I came to college, at the age of 18 years, that I began to seriously question whether or not Christianity was the true religion of God. “Now I re-examine philosophies and religions, They may prove well in lecture-rooms, yet not prove at all under the spacious clouds and along the landscape and flowing currents,” writes American poet Walt Whitman. Naturally, any educated person professing Christianity has to come to terms with the Pauline doctrine that the same God of Abraham, Isaac, and Jacob, the Sublime author of all that exists, was also a human being who lived on this earth, ate, slept, and prayed to God. The more I studied the Bible, the more I came to see that this doctrine was only indifferently supported by scripture and sometimes contradicted by it outright. In the Gospel of Mark 12:28-32, one of the Jewish scribes asks Jesus which is the most important of all the commandments:

 

    And Jesus answered him, The first of all the commandments is, Hear, O Israel; The Lord our God is one Lord 

    And thou shalt love the Lord thy God with all thy heart, and with all thy soul, and with all thy mind, and with all thy strength: this is the first commandment.

     And the second is like, namely this, Thou shalt love thy neighbour as thyself. There is none other commandment greater than these.

     And the scribe said unto him, Well, Master, thou hast said the truth: for there is one God; and there is none other but He:

     And to love Him with all the heart, and with all the understanding, and with all the soul, and with all the strength, and to love his neighbour as himself, is more than all whole burnt offerings and sacrifices.

     And when Jesus saw that he answered discreetly, he said unto him, Thou art not far from the kingdom of God. And no man after that durst ask him any question. (KJV)

 The first commandment mentioned by Jesus in the above passage is taken from Deuteronomy 6:4:

 “Hear, O Israel! The LORD our god, the LORD is one.”

 The word for “one” in the Hebrew scriptures (Hb. אֶחָד ‘ehad) is cognate with the Arabic word for the number one, واحد, as in the  first ayah of Surat’l-Ikhlas (112:1):

 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

 “Say: He is Allah, the One!” (Pickthal)

 Any Christian would nominally agree with the first half of our shahadah that “there is no god but God.” Yet the Hebrew Scriptures, like our own Qur’an, take this oneness a step further to affirm the essential unity of our Creator. God is the One, and the only entity worthy of worship. How, then, can He be three?

 Early Christian communities which had accepted the doctrine of the trinity struggled to reconcile the obvious difficulties in their theology, which necessitated that three be somehow equivalent to one. The only solution was to split the definition of God into two parts: “person” or “substantive reality” (Gk.Ὑπόστᾰσις, hypostasis) on the one hand; “essence” or “being” (Gk. Οὐσία, ousia) on the other. Without diving into a too-detailed discussion of Greek philosophical terminology, suffice the following example to clarify the meaning of both terms. Among a group of boxes of different sizes and colors, each would be identified by what makes it distinct from the other objects in the group – its color and size. These characteristics would make up the unique hypostasis of each box. Its ousia would consist of its box-ness, a nature which all three objects share in. In the trinitarian formulation, it is a “divine nature” that binds its tripartite conception of God. Succinct yet no less convoluted, the formula of “three persons, one being” became the cornerstone of the theology of Christian Orthodoxy. Yet no matter how you divide it, trinitarianism mirrors polytheism in all but terminology; when they say one, they still mean three.

Around the world, you will find Christians who pray sometimes to Jesus, sometimes to “God the Father,” and sometimes to the Holy Spirit, often for equivalent purposes and with little alternation in liturgy.

 Early Christianity, before the ascendance of Orthodoxy, was not, however, without difference of opinion. A controversial passage in the Gospel of Luke demonstrates the diversity of opinions one might have encountered had one lived in the eastern Roman provinces during the early years of Christianity. In chapter 2 verse 33, the oldest and most authoritative Greek manuscripts read “And his father and mother were amazed at the things said about him (Jesus)” (Sinaiticus, Vaticanus, W 032, and others in Greek, Latin, Syriac, and Coptic; my translation). At some time during the history of copying and recopying which the biblical text has experienced, this particular verse was subject to “harmonization,” in this case referring to alteration of the text by a scribe with the goal of making the text better conform to the prevailing theology of the day. An unscrupulous Orthodox scribe who took issue with the fact that Joseph is referred to as the “father” of Jesus changed the text to suit the view of Jesus as God’s literally begotten son. This change was widely accepted and perpetuated so that the few manuscripts which the Anglican church used to make its Authorized Version in 1611, undoubtedly the most influential translation of the Bible ever written, give the less controversial yet altered reading “And Joseph and his mother marvelled at those things which were spoken of him.” This is just one example among many of how the text of the New Testament has undergone considerable change at the hands of those trying to advance a particular theological angle. “There are more errors in the 6000 transcripts of the New Testament as there are words in the New Testament,” as biblical scholar Bart Ehrman said in a talk at Stanford University summarizing the points in his book titled “Misquoting Jesus: The Story Behind Who Changed the Bible and Why.”

 

The notion of disagreement within a religious text is itself problematic. How can something written by the hands of hundreds (including the scribes who intentionally or unintentionally added to or subtracted from the text, thousands) of different human beings living in different times and places be the word of God? The reason why the Bible disagrees with itself on so many fundamental points is that human beings disagree, because we have imperfect knowledge.

 Islam has its healthy share of disagreements among different scholars and thinkers, but that, again, is due to the imperfect knowledge of human beings. On the other hand, the source material we have, the Qur’an, is perfect and without disagreement or variation, nor has it ever changed. There are thousands of different manuscripts of the Hebrew bible, whether complete or partial, and they all have variant readings. The Septuagint, the early Greek translation of the HB, often disagrees considerably with the Hebrew Masoretic text that comes down to us, indicating that it is itself part of an entirely different textual tradition (with its own numerous internal variations) – and so on and so forth with the Coptic, Syriac, and Latin traditions. To really understand all that the “Bible” is, in an inclusive sense with its many traditions and variations, one must be fluent in at least six languages! The Qur’an, on the other hand, is only one text in one language – and its dual preservation as a text both oral and written is a check against any who would unscrupulously try to add to it or subtract from it. 

 The more I studied the Bible, the more it came to represent something foreign, in some cases well nigh unapproachable.

There’s so much language and cultural baggage in the Bible that is lost on even the most well-trained scholars. The text, despite its wide readership, cannot even be approached by the layperson without a massive explanatory apparatus attached to the text (thus these days there are Bibles aimed at particular demographics – there’s a Catholic Bible, an Episcopalian Bible, a Baptist Bible, a Bible for women, a Bible for children, Bibles for conservatives, for liberals, etc.)   Some books and chapters (all of the books in the “deuteronomic history” are plagued with this) seem to exalt systems of values and ethics that would be abhorrent to any conscious, humane moderner: For example, the biblical commandment that the Israelites should kill all the men, women, children,  and beasts of the field – everything “that breathes” – and possess the land of Canaan (Deuteronomy 20:16). Even if such passages were amenable to allegorical interpretation, what exactly would they say?

 The Qur’an’s teachings are humane, consistent, and of singular, divine authorship. Its language is unrivaled by any other work in Arabic or any other language. The greatest truths in our universe are evident to anyone who stops and thinks; the beauty around us is but a reflection of the beauty of the Creator.

 I am not a believer in the notion that the truth is esoteric, that it must be sought out through secret or obscure means, nor that it is the reserve of a select few. As I was questioning my beliefs while studying religions other than Christianity, I was guided by the awareness that the truth must be clear and easily accessible. It is a sign of the true God’s Mercy that He sends proofs that are clear. If mankind at large is truly to be held accountable for recognizing and following truth and leaving behind error, the truth must be right in front of our faces. And so it was. For better or worse, never before have people in the West been more preoccupied with the “Islamic question.” And the religion yet remains so poorly understood by the masses. If the religious conservatives in our own country were not so misdirected by prejudiced politics, they too would see how close Islam is to their own feelings of antipathy in this time and place which seems so immersed in the myths of secularism and so distant from the eternal principles which all of God’s prophets have established on earth in their times and places.


NoteDec 9, '11 5:11 AM
for everyone

LinkDec 8, '11 8:45 PM
for everyone
Link: http://www.belajar-filsafat.com

dengan filsafat sesuatu akan tampak jelas

Blog EntryDec 8, '11 8:42 PM
for everyone

FILSAFAT HIDUP RASULULLAH

 

Saudara-saudara pembaca Web-site NurSyifa' yang berbahagia. Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Dengan pengertian taqwa yang sebenar-benarnya dan seluas-luasnya, yakni melaksanakan segala perintah Allah SWT, dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.

Seorang muslim yang sejati adalah apabila ia telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai idola dalam hidupnya. Kita ikuti sikap dan tindak-tanduknya, demikian pula filsafat hidupnya harus diteladani.

Bagaimana filsafat hidup Rasulullah? Filsafat hidup adalah hal yang abstrak, yakni bagaimana seseorang memandang suatu persoalan hidup, cara memecahkan atau menyelesaikannya. Ada beberapa filsafat hidup yang dianut oleh manusia:

1.      Pertama : Dalam hidup ini yang penting perut kenyang dan badan sehat.

2.      Kedua   : Dalam hidup ini mengikuti ke mana arah angin berhembus, angin berhembus ke Timur, ikut ke Timur, angin berhembus ke Barat, ikut ke Barat, suapaya selamat dan mendapatkan apa yang diinginkan.

3.      Ketiga  : Dalam hidup ini yang penting "GUE SENENG" masa bodoh dengan urusan orang lain.

4.      Keempat : Dalam hidup ini harus baik di dunia dan baik di akhirat.

Sebagai muslim sudah selayaknya kita berfilsafat sebagaimana filsafat hidup Rasulullah SAW.

 

Filsafat hidup Rasulullah adalah sebagai berikut :

1.      Pertama : Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat. "Wahai Rasulullah, bagaimana kriteria orang yang baik itu? Rasulullah menjawab:

Yang artinya: "Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain".

Jika ia seorang hartawan, hartanya tidak dinikmati sendiri, tapi dinikmati pula oleh tetangga, sanak famili dan juga didermakan untuk kepentingan masyarakat dan agama. Inilah ciri-ciri orang yang baik. Jika berilmu, ilmunya dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Jika berpangkat, dijadikannya sebagai tempat bernaung orang-orang disekitarnya dan jika tanda tangannya berharga maka digunakan untuk kepentingan masyarakat dan agama, tidak hanya mementingkan diri dan golongannya sendiri.

Pokoknya segala kemampuan/potensi hidupnya dapat dinikmati orang lain, dengan kata lain orang baik adalah orang yang dapat memfungsikan dirinya ditengah-tengah masyarakat dan bermanfaat.

Sebaliknya kalau ada orang yang tidak bisa memberi manfaat untuk orang lain atau masyarakat sekitarnya bahkan segala kenikmatan hanya dinikmatinya sendiri, berarti orang itu jelek. Adanya orang seperti itu tidak merubah keadaan dan perginyapun tidak merugikan masyarakat.

Jadi filsafat hidup Rasulullah SAW menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita sebagai manusia untuk memegang filsafat hidup. Orang yang hanya menanam rumput untuk makanan ternak ia akan mendapatkan rumput tapi padinya tidak dapat, sebaliknya orang yang menanam padi, ia akan mendapatkan padi dan sekaligus mendapatkan rumput, karena rumput tanpa ditanam akan tumbuh sendiri. Begitu juga dengan kita yang hidup ini, kalau niat dan motivasinya sekedar mencari rumput (uang) iapun akan memperolehnya, tetapi tidak dapat padinya atau tidak akan memperoleh nilai ibadah dari seluruh pekerjaannya.

Oleh karena itu dalam menjalankan kehidupan, niatkan  untuk ibadah dengan suatu keyakinan bahwa pekerjaan dan tempat kerja kita, kita yakini sebagai tempat mengabdi kepada Nusa, Bangsa dan Negara, dan sebagai upaya menghambakan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian maka setiap hendak berangkat ke tempat bekerja berniatlah beribadah, Insya Allah seluruh pekerjaan kita akan bernilai ibadah, dan mendapatkan pahala.

Alangkah ruginya orang yang hidup ini niatnya hanya mencari "rumput" walau hal itu penting, tetapi kalau niatnya hanya itu saja, orang tersebut termasuk orang yang rugi, karena ia tidak akan mendapatkan nilai ibadah dari pekerjaannya.

Yang namanya ibadah bukan hanya shalat, zakat, puasa atau membaca Al-Qur'an saja, tetapi bekerja, mengabdi kepada masyarakat, Negara dan Bangsa dengan niat Lillahi Ta'ala ataupun ibadah. Hal ini penting untuk diketahui, karena ada yang berfilsafat: Kalau ada duitnya baru mau kerja, kalau tidak ada duitnya malas bekerja.

 

2.      Kedua : Rasul pernah ditanya, wahai Rasulullah! Orang yang paling baik itu yang bagaimana? Rasul menjawab :

Yang artinya : "Sebaik-baiknya diantara kamu ialah orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya".

Sudah barang tentu orang yang semacamn ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya kalau ada orang yang amalnya baik tapi umurnya pendek masyarakat akan merasa kehilangan. Rasulullah juga mengatakan,"Seburuk-buruknya manusia yaitu mereka yang panjang umurnya tapi jelek perbuatannya".

Jadi sebenarnya kalau ada orang semacam itu mendingan umurnya pendek saja, supaya masyarakat sekitarnya tidak banyak menderita dan agar ia tidak terlalu berat tanggung jawabnya di hadapan Allah. Orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya itulah orang yang baik.

Permasalahannya sekarang bagaimana agar kita mendapat umur yang panjang. Sementara orang ragu, bukankah Allah telah menentukan umur seseorang sebelum lahir? Pernyataan ini memang benar, tapi jangan lupa Allah adalah Maha Kuasa menentukan umur yang dikehendaki-Nya.

Adapun resep agar umur panjang sebagaimana resep Rasulullah :

Secara lahiriyah, kita semua sependapat untuk hidup sehat, harus hidup teratur, makan yang bergizi serta menjaga kondisi dengan berolahraga yang teratur.

Secara spiritual orang yang ini panjang umur ada dua resepnya:

1. Pertama : Suka bersedekah yakni melepaskan sebahagian hartanya di jalan Allah untuk kepentingan masyarakat, anak yatim, fakir miskin maupun untuk kepentingan agama. Dengan kata lain orang yang kikir atau bakhil sangat mungkin umurnya pendek.

2. Kedua    : Suka silahturahmi, Silah berarti hubungan dan rahmi berati kasih sayang, jadi suka mengakrabkan hubungan kasih sayang dengan sesama, saling kunjung atau dengan saling kirim salam.

Sementara para ahli tafsir menyatakan sekalipun bukan umur itu yang bertambah misalnya 60 tahun, karena sering silahturahmi meningkat menjadi 62 tahun, banyak sedekahnya menjadi 65 tahun. Kalau bukan umurnya yang bertambah, setidak-tidaknya berkah umur itu yang bertambah. Umurnya tetap tapi kualitas dari umur itu yang bertambah.

 

3.      Ketiga : Rasul pernah ditanya, orang yang paling beruntung itu yang bagaimana? Rasul Menjawab :

Yang artinya : "Barang siapa yang keadaannya hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari kemarin maka dia adalah orang beruntung".

Kalau kita bandingkan dengan tahun kemarin, ilmu dan ibadahnya, dedikasinya, etos kerja, disiplin kerja meningkat, dan akhlaknya semakin baik, orang tersebut adalah orang yang beruntung. Dengan kata lain filsafat hidup Rasulullah yang ketiga adalah "Tiada hari tanpa peningkatan kualitas hidup".

Pernyataan Rasul yang kedua :

Yang artinya: "Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi".

Jika amalnya, akhlaknya, ibadahnya, kedisplinannya dan dedikasinya tidak naik dan juga tidak turun maka orang tersebut termasuk orang yang merugi.

Sementara orang bertanya: Kenapa dikatakan rugi padahal segala-galanya tidak merosot? Bagaimana dikatakan tidak rugi, mata sudah bertambah kabur, uban sudah bertabu, giginya sudah pada gugur dan sudah lebih dekat dengan kubur, amalnya tidak juga bertambah, kualitas hidup tidak bertambah maka ia adalah rugi. Dan Rasul mengatakan selanjutnya :

Yang artinya : "Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka orang semacam itu dilaknat oleh Allah".

Oleh karena itu pilihan kita tidak ada lain kecuali yang pertama, yakni tidak ada hari tanpa peningkatan kualitas hidup. Sebagai umat Islam, kedispilinan, dedikasi, kepandaian, kecerdasan, keterampilan harus kita tingkatkan, agar kita termasuk orang yang beruntung.

 

4.      Keempat : Rasul pernah ditanya : "Wahai Rasulullah! Suami dan isteri yang paling baik itu bagaimana? Rasul menjawab : "Suami yang paling baik adalah suami yang sikap dan ucapannya selalu lembut terhadap isterinya, tidak pernah bicara kasar, tidak pernah bersikap kasar, tidak pernah menyakiti perasaan isterinya, tetap menghormati dan menghargai isterinya.

Sebab ada sikap seorang suami yang suka mengungkit-ungkit segala kekurangan isterinya, sehingga dapat menyinggung perasaannya, yang demikian termasuk suami yang tidak baik biarpun keren dan uangnya banyak. Hakekatnya suami yang tidak baik yaitu suami yang kasar terhadap isterinya. Dan seorang laki-laki yang mulia ialah yang bisa memuliakan kaum wanita, tidak suka menyepelekan. Sampai-sampai Rasul masih membela kepada kaum wanita beberapa saat sebelum Beliau wafat. Beliau sempat berpesan: "Aku titipkan nasib kaum wanita kepadamu". Diulangnya tiga kali. Karena kaum wanita kedudukannya serba lemah. Jadi kalau seoarang suami memiliki akhlak yang tidak baik maka penderitaan sang isteri luar biasa. Hal ini perlu kita ingat karena segala sukses yang dicapai oleh sang suami pada hakekatnya adalah karena andil sang isteri. Demikian juga andil isteri yang membantu mencarikan nafkah.

 

5.      Kelima : Rasul pernah ditanya, "Wahai Rasulullah! Orang yang benar itu yang bagaimana? Rasul menjawab,"Apabila dia berbuat salah segera bertaubat, kembali kepada jalan yang benar. Oleh karena itu para filosof mengatakan, "Orang yang benar adalah bukan orang yang tak pernah melakukan kesalahan, tapi orang yang benar adalah mereka yang sanggup mengendalikan diri dari perbuatan yang terlarang dan bila terlanjur melakukannya, ia memperbaiki diri dan tidak mengulangi perbuatan yang salah itu. Ibarat anak sekolah mengerjakan soal, kalau salah tidak jadi masalah, asal setelah dikoreksi tidak mengulangi kesalahannya. Sampai-sampai ada ungkapan yang tidak enak didengar tapi benar menurut tuntunan Islam, yaitu: Bekas maling itu lebih baik  dari pada bekas santri. Kita tahu bahwa santri adalah orang yang taat beragama, sedangkan maling penjahat, pemerkosa, dan sebagainya tapi setelah bertaubat menjadi orang yang baik, kembali ke jalan yang benar. Orang yang demikian matinya menjadi khusnul khotimah. Memang yang ideal, orang yang baik itu dari muda sampai tua baik terus, tapi hal itu jarang.

Kesalahan yang sudah terlanjur, selama masih mau bertaubat tidak jadi masalah. Oleh karena itu, segala hukuman, seperti hukuman administrasi dalam kepegawaian, selalu didasarkan atas beberapa pertimbangan. Apakah kesalahannya tidak bisa ditolerir, apakah orang tersebut perlu diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya atau tidak. Apakah kesalahannya terpaksa atau karena kebodohannya? Maka berbagai pertimbangan perlu dilakukan sehingga ada kesempatan bagi orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya, agar dia bisa kembali menjadi orang yang baik. Nabi Muhammad SAW bersabda :

Yang artinya: "Walaupun engkau pernah melakukan kesalahan sehingga langit ini penuh dengan dosamu, asal saja kamu bertaubat, pasti akan terima oleh Allah".

 

6.      Keenam : Suka memberi. Sabda Nabi :

Yang artinya : "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah".

Orang yang suka memberi, martabatnya lebih terhormat daripada orang yang suka menerima. Allah berfirman :

Yang artinya : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 261)

Tidak ada orang yang suka sedekah, kemudian jatuh miskin. Umumnya yang jatuh miskin karena suka judi, togel, dan minuman keras. Dan resep kaya menurut Islam adalah kerja keras, hidup hemat, dan suka sedekah.

 

7.      Ketujuh : Rasul pernah ditanya oleh para sahabat : "Wahai Rasul! Si pulan itu orang yang luar biasa hebatnya. Dia selalu berada dalam masjid, siang malam melakukan shalat, puasa, I'tikaf, berdo'a. Kemudian Rasul bertanya kepada para sahabat, "Apakah orang itu punya keluarga?" Sahabat menjawab, "Punya Ya Rasul". Kata Rasul : "Orang tersebut adalah orang yang tidak baik!. Saya ini suka ibadah tapi disamping itu sebagai seorang suami, berusaha mencari nafkah. Sampai Rasul menyatakan : " Tergolong tidak baik orang yang hanya mementingkan urusan ukhrawi tetapi melalaikan urusan dunia".

Juga tidak benar orang yang hanya mementingkan urusan duniawi tapi melalaikan urusan ukhrawi. Yang paling baik adalah seimbang antara kepentingan duniawi dengan kepentingan ukhrowi dan tidak berat sebelah.

 

Oleh : Al-Ustadz Drs. Burhanuddin


Blog EntryDec 4, '11 7:32 AM
for everyone

umat, 01 Juli 2011

Keteladanan Umar Bin Abdul Aziz

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin yang paling disenangi rakyatnya. Banyak ahli sejarah menjulukinya dengan Khulafaur Rasyidin kelima. Saat menjadi khalifah, Umar pernah mengambil paksa harta yang dimanfaatkan keluarga khalifah karena melakukan abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) dan menyerahkannya ke baitulmal.

Umar juga membuat kebijakan menghapus pegawai pribadi bagi khalifah. Umar menekankan terjalinnya kedekatan hubungan antara pejabat dan rakyat. Umar juga berhasil menciptakan kemakmuran. Hal itu tergambar dari sulitnya mencari penerima zakat sehingga harta negara yang berasal dari zakat sampai menggunung. Menariknya, meskipun rakyat hidup makmur, Umar tetap hidup sederhana. Ia pernah membuat petugas protokoler terkejut. Pasalnya, Umar menolak kendaraan dinas karena lebih memilih binatang tunggangan miliknya sendiri.

Saat Umar sakit, Maslamah bin Abdul Malik datang menjenguknya. Maslamah melihat pakaian Umar sangat kotor. Ia bertanya kepada Fatimah, istri Umar, "Tidakkah engkau mencuci bajunya?" Fatimah menjawab, "Demi Allah, dia tidak memiliki pakaian lain, kecuali yang dipakainya."

Suatu ketika, Umar memanggil istrinya yang memiliki banyak perhiasan pemberian ayahnya. "Wahai istriku, pilihlah olehmu, kamu kembalikan perhiasan-perhiasan ini ke baitulmal atau kamu izinkan saya meninggalkan kamu untuk selamanya. Aku tidak suka bila aku, kamu, dan perhiasan ini berada dalam satu rumah." Fatimah menjawab, "Saya memilih kamu daripada perhiasan-perhiasan ini."

Umar juga dikenal bersih dan jujur. Diriwayatkan Amr bin Muhajir, suatu hari salah seorang anggota keluarganya memberi apel. Umar lantas berkata, "Alangkah harum aromanya. Wahai pelayan, kembalikan apel ini kepada si pemberi dan sampaikan salam saya kepadanya bahwa hadiah yang dikirim telah sampai." Amr bertanya, "Mengapa pemberian hadiah dari orang yang masih ada hubungan kekerabatan ditolak? Padahal, Rasulullah SAW juga menerima hadiah." Umar menjawab, "Sesungguhnya, hadiah yang diberikan kepada Rasulullah benar-benar hadiah, sedangkan yang diberikan kepadaku ini adalah suap."

Dalam situasi Indonesia seperti saat ini, keteladanan Umar patut dicontoh. Pertama, hidup sejahtera adalah hak setiap warga negara. Islam menganut prinsip keadilan, tidak ada orang miskin di tengah orang kaya. Kedua, seorang pemimpin harus menjaga amanah rakyat. Karena itu, penyalahgunaan kekuasaan harus dihindari demi terciptanya bangsa yang makmur, sejahtera, dan damai.

Ketiga, kedekatan hubungan antara pemimpin dan rakyat perlu dibangun agar aspirasi rakyat bisa diterima langsung oleh pemimpin. Keempat, di tengah ekonomi yang sedang terpuruk, pejabat negara perlu menjaga perasaan rakyat. Sebagai khalifah, Umar memilih hidup sederhana dengan kendaraan dan pakaian yang sederhana.

Kelima, di tengah maraknya kasus korupsi, Umar memberi teladan bahwa seorang pemimpin harus bersih dan selalu memegang prinsip kejujuran. Keenam, kekayaan seseorang tidak bisa dijadikan dasar dalam menentukan strata sosial. Strata sosial seseorang adalah sejauh mana orang tersebut memiliki kesalehan sosial.

By : Khofifah Indar Parawansa
Source: www.republika.co.id

Blog EntryNov 30, '11 8:38 PM
for everyone

Sederhana Namun Penuh Makna

29/11/2011 | 03 Muharram 1433 H | Hits: 1.137
Oleh: Muhammad al-Fatih
Kirim Print
email

Ilustrasi

dakwatuna.com – Di sebuah kota di bilangan Jakarta, tinggallah sepasang suami-istri. Mereka seperti keluarga lainnya, memiliki rutinitas, permasalahan, dan berbagai hal yang dialami oleh keluarga kebanyakan. Sang suami merupakan jajaran direksi di sebuah perusahaan multinasional dan istrinya membaktikan hidupnya untuk menghidupkan dan memelihara rumah.

Suatu hari suami tersebut harus menghadapi sebuah rapat yang sangat penting keesokan harinya, sebuah penandatanganan MoU dengan sebuah perusahaan asing. Sang suami merupakan orang yang cukup disiplin, ia selalu mempersiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan besok pada malam sebelumnya.

Malam itu sang suami mencari celana yang ingin ia kenakan esok hari, namun berkali-kali mencari ia tetap tak mampu menemukannya padahal ia sangat yakin bahwa sang istri biasa meletakkan pakaiannya di sana. Namun tetap saja ia tidak bisa menemukan celana yang ingin ia gunakan, padahal ia sudah sangat ingin mengenakan celana itu di hari yang penting, sebuah celana pemberian sahabatnya di ulang tahunnya yang ke-32.

“Ma, kok papa ga bisa menemukan celana abu-abu itu ya?”, tanya sang suami pada istrinya. Saat itu sang istri sedang dalam kondisi beristirahat karena hari itu ia baru saja menjadi tuan rumah untuk sebuah pengajian.

“Abu-abu yang mana ya, Pa?”, sambil ia tetap berusaha menjawab, padahal matanya sama sekali sudah tidak bisa diajak kompromi.

“Celana abu-abu yang dari sahabat Papa yang dari Samarinda itu, lho” lanjut sang suami.

“Biasanya mama taruh di lemari itu kok” jawab sang istri sembari menunjuk ke sebuah lemari coklat tua di ujung kamar.

“Iya, Papa juga tau Mama biasa taruh di sana, tapi dari tadi aku cari-cari ga ketemu, Ma”

“Aduh, aku ga tau, Pa. Aku mau istirahat ya, Pa. Badan ini rasanya udah ga bisa aku gerakin lagi”

“Ma, mama gimana sih. Mama kan yang ada di rumah, seharusnya mama tau dong dimana aja tempat-tempat menyimpan pakaian”, sang suami sudah agak sedikit marah.

“Iya, Pa, tapi mama bener-bener ga tau juga.”

Ck, masa diambil orang sih. Atau kamu ga sengaja buang?” keluhan sang suami semakin meningkat.

“Pa, tolong deh, kita sama-sama lagi capek. Bisa ga kita cari besok?”, sang istri pun semakin tidak mampu menahan diri.

Huh! Terserah mama aja!” jawab sang suami yang membuat suasana semakin tidak nyaman.

Sang suami berjalan keluar kamar dengan menggerutu. Namun, baru saja beberapa langkah, tiba terbesit di hatinya.

“Astaghfirullah, apa yang baru saja aku lakukan? Apakah hanya karena sebuah celana aku menjadi berkata begitu keras kepada istriku? Wanita yang telah mendampingiku selama ini, menghidupkan rumah tanggaku, mendidik anak-anakku, serta selalu mengingatkan aku pada Rabbku. Astaghfirullah.. Astaghfirullah..” ia beristighfar berkali-kali.

“Yaa Rabb, ampunilah hamba, jika memang celana tersebut sudah bukan jodoh hamba maka hamba ikhlas. Hamba ikhlas yaa Rabb. Maafkan hamba ya Allah”, begitu doanya diiringi penyesalan yang begitu mendalam.

Lalu sang suami kembali berjalan ke dalam kamar dan menghampiri istrinya yang terlihat telah terlelap.

“Ma, maafkan papa yang tadi sudah berkata keras hanya karena tidak bisa menemukan barang yang papa suka. Memang Allah menanamkan di hati setiap manusia kecintaan pada harta benda. Allah sedang menguji kesabaran papa. Papa paham sekarang, memang cuma orang-orang yang ikhlas yang mampu mempunyai kesabaran yang tinggi.” ucap sang suami sembari meminta maaf kepada istrinya.

Sang istri membalas dengan senyum simpul yang teduh.

“Insya Allah, Allah sayang Papa” jawab sang istri.

Setelah meminta maaf sang suami beranjak keluar untuk mencari udara segar, sedangkan sang istri sudah kembali terlelap. Ia berjalan menuju pekarangan belakang rumah. Ketika sedang memandang langit, tak sengaja pandangannya jatuh di sebuah tiang jemuran dan setelah ia memicingkan mata, ia melihat sebuah celana abu-abu yang telah ia cari semenjak tadi dan hampir saja merusak hubungannya dengan istrinya.

Tanpa pikir panjang ia pun langsung mengambil celana itu, dibawanya menuju kamar. Ia mencari sebuah setrika lalu merapikan celana tersebut. Sebuah celana penuh kenangan dari sahabat terdekatnya yang telah Allah panggil terlebih dahulu.

Pria itu hanya tersenyum. Ia beranjak untuk menggantung celananya. Berjalan menuju tempat tidur untuk beristirahat. Ia kecup kening istrinya, lalu matanya terpejam dan berdoa, “Yaa Rabb, karuniakanlah kepada hamba kesabaran di atas kesabaran, lapangkanlah hati ini untuk mampu senantiasa tawakal kepada-Mu.”

Malam itu ditutup dengan doa yang indah dan ketawakalan yang merekah.

# Kesabaran adalah hal yang sederhana namun penuh makna. Hanya yang ikhlas menjalani hiduplah yang mampu memilikinya.


Blog EntryNov 29, '11 8:38 PM
for everyone

12 Tanda Depresi pada Pria

Lusia Kus Anna | Jumat, 28 Oktober 2011 | 10:59 WIB
Dibaca: 8391
|
Share:

Kompas.com - Masalah gangguan kesehatan jiwa berupa depresi ternyata banyak dialami orang dewasa. Di Amerika Serikat saja diperkirakan 5 juta orang menderita depresi, sementara di Indonesia angkanya mencapai 11,6 persen atau mencapai satu juta orang.

Depresi klinis, baik pada pria dan wanita, akan menyebabkan rasa sedih berkepanjangan serta kehilangan minat pada aktivitas tertentu. Meski begitu depresi terkadang menimbulkan gejala yang tersamar dan berbeda-beda pada setiap orang.

"Walau gejala yang dikenali untuk mendiagnosa depresi secara garis besar sama, tetapi ada perbedaan gejala pada pasien pria dan wanita," kata Ian A.Cook, MD, profesor psikiatri dari Universitas California, Los Angeles, AS.

Berikut adalah 12 gejala depresi yang kerap muncul pada pria.

1. Kelelahan Orang yang depresi mengalami berbagai perubahan fisik dan emosional. Mereka bisa mengalami kelelahan, kelambatan dalam gerakan fisik dan bicara, atau proses berpikir. Para ahli juga menemukan pria lebih sering dilaporkan menderita kelelahan dan gejala fisik dari depresi dibandingkan wanita.

2. Kesulitan atau terlalu banyak tidur

Gangguan tidur, seperti insomnia, bangun terlalu pagi, atau justru terlalu banyak tidur, merupakan bagian dari gejala depresi. "Sebagian pasien tidur 12 jam setiap hari dan masih merasa kelelahan. Atau ada juga yang terbangun dari tidur setiap dua jam," kata Dr.Cook.

3. Sakit perut atau nyeri punggung

Gangguan kesehatan seperti sembelit, diare, atau pun sakit kepala dan nyeri punggung, sering ditemui pada orang-orang yang menderita depresi. Namun, mereka sering tidak menyadari nyeri kronik tersebut adalah gejala gangguan mental.

4. Gampang marah

Bukannya terlihat sedih, pria yang sedang depresi sering menunjukkan sikap mudah marah. "Jika berbicara tentang komponen emosional, biasanya adalah kesedihan dengan perasaan mudah marah," kata Cook.

5. Sulit berkonsentrasi

Penurunan psikomotor bisa membuat kemampuan pria memproses informasi berkurang. Hal ini tentu mengganggu konsentrasi dan pekerjaan. Menurut Josh Klapow, psikolog klinik, saat depresi kita menjadi lebih lambat dan terus-menerus berpikir negatif sehingga sulit fokus pada satu hal.

6. Sikap bermusuhan

Beberapa pria yang depresi menunjukkan sikap marah, agresif, atau permusuhan, secara nyata. "Pria yang menyadari ada sesuatu yang salah perlu kompensasi dengan menunjukkan bahwa mereka masih kuat atau mampu," katanya.

7. Stres

Penelitian menunjukkan stres dalam jangka panjang akan menyebabkan perubahan baik pada tubuh atau otak, sehingga bisa memicu depresi. Dengan kata lain, merasa stres bisa menjadi indikator memiliki depresi.

8. Kecemasan

Gejala kecemasan memang lebih sering dialami wanita, tetapi pria yang depresi kerap mengalaminya. Malah, lebih mudah bagi mereka untuk mengungkapkan kecemasannya dibanding perasaan sedih.

9. Kecanduan

Kecanduan pada zat tertentu, terutama alkohol, banyak dialami pria yang depresi. "Ini bisa terjadi pada pria dan wanita. Namun memakai narkoba atau alkohol untuk menutupi perasaannya adalah strategi yang banyak dipakai pria," kata Cook.

10. Disfungsi seksual

Depresi adalah alasan umum pada berkurangnya libido atau kegagalan ereksi.

11. Kebimbangan

Adalah wajar jika suatu saat kita merasa bimbang untuk membuat keputusan. Tetapi depresi bisa membuat kemampuan kita dalam memutuskan menjadi lambat. Sayangnya gejala ini sering tidak sadari.

12. Pikiran bunuh diri

Wanita memang lebih sering berpikir bunuh diri, tetapi pria empat kali lebih berhasil saat memutuskan bunuh diri. Alasannya adalah pria cenderung tidak ragu saat memakai senjata, termasuk untuk melukai dirinya. Menurut dokter, pria berusia lanjut adalah kelompok yang paling beresiko melakukan bunuh diri.


Blog EntryOct 19, '11 3:43 AM
for everyone

Persoalan yang terjadi pada Umat Islam dewasa ini sesungguhnya bukan pada masalah keyakinan, melainkan tertahannya ajaran Islam yang mulia pada tataran keyakinan, tidak ditransformasikan dalam kehidupan. Pada titik ini, telah terjadi jarak yang amat jauh antara Umat Islam dengan agamanya. Sementara Islam berdiri di satu sisi. Umat Islam berdiri di sisi lain. Hal ini sungguh telah menimbulkan masalah serius yang menimpa Umat Islam tanpa henti sampai hari ini.

***

Transformasi Aqidah dalam Kehidupan

"Katakanlah: 'Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah Kami menyerahkan diri'." (QS. Ali Imran [3] : 84)

Menakjubkan! Ini yang dapat saya katakan ketika menyaksikan berbagai parade demonstrasi penolakan terhadap berbagai usulan pelaksanaan norma-norma keislaman yang akhir-akhir ini marak disiarkan melalui media masa, baik cetak maupun elektronik.

"Saya seorang Muslim tetapi saya tidak fanatik".

"Saya seorang Muslim, tetapi saya menolak Syari’ah Islam dilaksanakan karena akan terjadi anarkis, disintegrasi bangsa dan seterusnya".

Saya katakan menakjubkan karena penolakan ini dilakukan oleh orang-orang yang notabene menyatakan diri sebagai Muslim yang bersyahadah "Laa ilaaha ilallah, Muhammad Rasulullah". Bahkan dilakukan oleh para Kiai dan Intelektualnya. Saya katakan menakjubkan, karena bagaimana mungkin orang-orang yang menyatakan diri sebagai pemeluk Islam tetapi menolak dengan sekeras-kerasnya pelaksanaan norma-norma agamanya.

Bagaimana mungkin orang-orang yang menyatakan diri sebagai seorang Muslim menghujat dengan sekeras-kerasnya nilai-nilai agamanya. Ini adalah hal yang menakjubkan! Saya katakan menakjubkan karena ini fenomena baru, keberanian baru dari generasi Muslim dalam menentang azab Allah yang teramat pedih, yang tidak pernah dilakukan oleh generasi Muslim sepanjang sejarahnya. Dari mana keberanian itu muncul? Kenapa mereka tidak mau berendah di bawah 'kursi Allah', mencontoh generasi terdahulu yang telah dengan ta’dzim memenuhi panggilan dengan mengatakan, "Sami’na wa atho’na (Kami mendengar dan kami patuh)". (QS. An-Nuur [24] : 51)

Sepanjang informasi Al-Qur’an, sikap penolakan ini adalah warisan dua guru utama dalam pembangkangan, yaitu Iblis laknatullah dan Yahudi yang dimurkai Allah SWT.

Tentang sejarah pembangkangan Iblis, Al-Qur’an menerangkan:

"Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para Malaikat, 'Sujudlah kamu semua kepada Adam', lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata, 'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?' Dia (iblis) berkata, 'Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil'." (QS. Al-Israa’ [17] : 61-62)

Sedangkan sejarah pembangkangan Yahudi, Al-Qur’an menerangkan:

"Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman). 'Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!' mereka menjawab, 'Kami mendengar tetapi tidak mentaati'. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah, 'Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat). Perbuatan jahat yang mereka kerjakan ialah menyembah anak sapi, membunuh Nabi-nabi dan melanggar janji'." (QS. Al-Baqarah [2] : 93)

Itulah sejarah pembangkangan. Yang kemudian menjadi pernyataan kita adalah kenapa sikap pembangkangan kepada Allah dan Rasul-Nya itu merasuk ke dalam diri orang-orang Muslim? Apakah generasi ini telah berguru kepada mereka tentang pembangkangan?

Kemudian kita boleh berfikir, bagaimana sekiranya keislaman model demikian itu kita hadapkan kepada Rasulullah SAW, Abu Bakar atau Umar bin Khattab?

Dikisahkan:

Dua orang lelaki yang sedang bermasalah datang menemui Nabi SAW, lalu beliau memutuskan tidak bersalah untuk pihak yang benar di atas pihak yang salah. Pihak yang diputuskan bersalah tidak mau menerima dan berkata kepadanya, "Saya tidak terima!" Kemudian yang satunya berkata, "Lalu apa maumu?" Ia menjawab, "Kita pergi kepada Abu Bakar Ash-Shidiq!" Mereka pun pergi. Orang yang diberi keputusan tidak bersalah berkata kepada Abu Bakar. "Kami mencari keadilan kepada Nabi SAW lalu aku diberi keputusan tidak bersalah." Abu Bakar lalu berkata kepadanya, "Kamu berdua harus menerima apa yang telah diputuskan oleh Rasulullah SAW." Akan tetapi yang satunya tidak mau menerima. Keduanya kemudian menemui Umar bin Khattab, lalu orang yang diberi putusan tidak bersalah berkata, "Kami telah mencari keadilan kepada Nabi SAW lalu aku diberi keputusan tidak bersalah tetapi yang satunya tidak mau menerima." Mendengar permasalahan ini lalu Umar bertanya kepadanya dan dijawab benar adanya. Umar kemudian masuk dan kembali lagi dengan membawa pedang terhunus di tangannya. Lalu orang yang tidak mau menerima putusan Rasulullah SAW tersebut ditebas lehernya. Maka turunlah ayat, "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya". (QS. An-Nisa [4] : 65)

Kemudian dalam Sirah Nabawiyah diterangkan:

Ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya hijrah ke Madinah beliau menyeru kepada seuruh kaum Muslimin untuk berhijrah ke Madinah, tetapi di Mekah ada sebagian kaum Muslimin, yang karena berbagai alasan, tidak memenuhi seruan Rasulullah SAW tersebut, antara lain: Harits bin Zama’ah, Abu Qais bi fakih, Abu Qais bin Walid, Ali bin Ummayah dan ‘Ash bin Munibah. Ketika pecah perang Badar mereka dimanfa’atkan oleh pihak kafir Mekah untuk memerangi pasukan Islam. Oleh pasukan Islam mereka semua dihadapi sebagai musuh, semuanya mati terbunuh, mereka mati dalam kesesatan dan menjadi penghuni Neraka Jahanam.

Dalam kasus ini Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya, 'Dalam keadaan bagaimana kamu ini?' mereka menjawab, 'adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)'. para Malaikat berkata, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?' orang-orang itu tempatnya Neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisa [4] : 97)

Dalam sunnah Khulafaur Rasyidin, Abu Bakar telah memutuskan untuk memerangi orang-orang yang membangkang tidak mau membayar Zakat, setelah wafat Rasulullah SAW. Abu Hurairah ra berkata, "Tatkala Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar ra terangkat sebagai khalifah, beberapa kelompok masyarakat Arab kembali menjadi kafir.

Umar ra bertanya kepada Abu Bakar, 'Bagaimana kamu akan memerangi manusia sedang Rasulullah SAW bersabda, "Aku diperintahkan supaya memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Dua Kalimah Syahadah. Barangsiapa yang mengucapkannya berarti dia dan hartanya terpelihara kecuali apa yang dibenarkan oleh Syari’ah dan perhitungannya terserah kepada Allah SWT".'

Abu Bakar menjawab, 'Demi Allah aku akan memerangi mereka yang membedakan antara kewajiban Shalat dengan kewajiban Zakat, karena Zakat merupakan kewajiban terhadap harta. Demi Allah, andaikan mereka menahan seutas tali yang bias diberikan kepada Rasulullah SAW saya akan memerangi mereka karena menahan tali itu'.

Berkata Umar, 'Demi Allah, tidak lain keterangan Abu Bakar melainkan saya mengerti bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang, maka saya baru mengerti bahwa itulah perkara yang benar'." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga kasus tersebut di atas adalah menyangkut orang-orang yang menyandang predikat Muslim, tetapi kenapa dalam kasus pertama, sahabat Umar bin Khatab memenggal lehernya? Bukankah ia tahu bahwa sahabat tersebut adalah seorang Muslim, hanya saja ia tidak menerima keputusan Rasulullah SAW? Kenapa ia harus dipenggal lehernya, bukankah darah seorang Muslim tidak halal kecuali atas tiga hal, yaitu karena (1) membunuh, karena (2) zina muhshon dan karena (3) murtad dari agamanya?

Dalam kasus kedua, mengapa orang-orang Muslim yang bergabung dengan pasukan musuh itu (bahkan dalam keadaan dipaksa) diperangi dan diperlakukan sebagai musuh oleh pasukan Islam, bahkan akhirnya mereka semuanya terbunuh oleh pasukan Islam? Bukankah mereka seorang Muslim, hanya mereka tidak mau memenuhi perintah Rasulullah SAW untuk berhijrah ke Madinah dan bergabung dengan saudara-saudara sesama Muslim di Madinah? Apakah mereka itu telah murtad atau telah keluar dari keislamannya?

Kemudian dalam kasus ketiga, mengapa Khalifah Abu Bakar menghalalkan darahnya dengan memerangi mereka. Bukankah mereka adalah orang-orang yang bersyahadat dan mengerjakan Shalat, hanya saja mereka enggan membayar Zakat? Padahal seperti penjelasan Umar bin Khatab dihadapan Abu Bakar, dengan landasan sabda Rasulallah SAW bahwa orang bersyahadat "Laa ilaha illallah, Muhammad Rasulullah" terpelihara jiwa, harta dan kehormatannya?

Ketiga kasus di atas adalah pelajaran bagi umat Islam bahwa pernyataan keislaman seseorang tidak secara otomatis menempatkan dirinya pada maqom seorang Muslim. Predikat kemusliman yang disandang seseorang yang ternyata menuntut persyaratan-persyaratan yang mesti dipenuhi. Apabila persyaratan itu dipenuhi maka Muslim-lah ia, tetapi manakala ia keluar dari persyaratan itu, maka demi hukum gugurlah keislamannya.

Allah SWT berfirman, "Di antara manusia ada yang mengatakan, 'Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian' pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman". (QS. Al-Baqarah [2] : 8)

Allah SWT berfirman, Katakanlah, "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah, 'Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)'." (QS. Al-Anbiya’ [21] : 108)

Yang perlu mendapat perhatian kita adalah keislaman macam apa yang dikehendaki oleh Allah SWT sehingga kita layak menyandang predikat Muslim? Bukankah KTP kita Islam? Kita juga sudah melaksanakan Shalat dan bahkan Haji? Kemudian apalagi? Kenapa Allah masih mempertanyakan keislaman kita?

Penegasan ini sesunggunya hal yang sangat wajar di tengah derasnya arus pergaulan yang sangat serius antara Materialisme dan Iman, di mana Materialisme sedang di atas angin mendominasi seluruh sisi kehidupan, di mana kebanyakan ‘mata hati’ manusia tersilap oleh gemerlap semua Materialisme yang memang sangat menggoda. Penegasan ini sesunggunya sangat perlu di mana banyaknya pernyataan dusta dan palsu tentang keimanan dan keislaman yang dilakukan oleh sebagian besar manusia.

Yang perlu kia lakukan hanyalah membuktikan diri bahwa kita ini seorang Muslim. Muslim yang dikehendaki oleh Allah, bukan Muslim yang kita kira sendiri atau kita kehendaki sendiri. Karena kita adalah hamba Allah bukan hamba diri sendiri. Karena ita mengharapkan ridha Allah bukan ridha diri sendiri. Tetapi bagaimana ber-Islam dengan cara Allah?

Perhatikan ayat berikut ini:

"Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan". (QS. Ali Imran [3] : 83)

Makna hakiki dari Islam adalah tunduk dan patuh. Yang dimaksud tunduk dan patuh di sini adalah tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah.

Sampel keislaman yang dikehendaki oleh Allah SWT sebagai mana dinyatakan di atas adalah Islamnya alam semesta. Jadi kita harus ber-Islam sebagaimana Islamnya alam semesta. Tetapi bagaimana alam semesta ber-Islam?

Mari kita perhatikan ayat berikut:

"Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohon, binatang-binatang, yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapayang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakanya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki". (QS. Al-Hajj [22] : 18)

Islamnya alam semesta ternyata bersujud mengabdi kepada Allah. Artinya, mereka tunduk patuh berjalan pada garis ketentuan Allah SWT. Mereka semuanya melakukan ibadah, melakukan sholat dan tasbih sebagaimana yang dilakukan oleh manusia, tetapi hanya Allah-lah yang lebih mengetahui tata cara tasbih dan sholatnya.

"Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sholat dan tasbihnya, dan Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan". (QS. An-Nuur [24] : 41)

Seluruh makhluk di alam ini, dari matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang-binatang, burung-burung dan lain-lain, semuanya tunduk, sujud, ber-Islam kepada Allah SWT. Dalam ber-Islam, seluruh makhluk yang ada di semesta ini memiliki orbit (jalan) yang mesti dilaluinya. Dalam bersujud (ber-Islam) kepada Allah, matahari, beredar pada orbitnya dan tidak pernah keluar dari orbit itu walau sedikit. Demikian juga bulan, bumi dan bintang-bintang yang ada di semesta ini, semuanya beredar pada orbitnya tanpa pernah keluar dari garisnya walaupun sedikit. Matahari, bulan dan bintang-bintang tidak pernah ingkar dari garis ini. Matahari tidak pernah keluar dari orbitnya lalu beredar pada orbit bintang lain. Demikian juga bumi tidak pernah keluar dari orbitnya lalu berjalan di orbit bintang lain. Inilah jalan keislaman yang dikehendaki oleh Allah, ketundukan pada orbit yang telah ditetapkan baginya.

"Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya". (QS. Yasin [36] : 40)

Manusia, sebagaimana makhluk lainnya, juga diwajibkan oleh Allah berislam (sujud) bersama sujudnya makhluk-makhluk lainnya. Bila alam semesta dalam bersujud memiliki orbit untuk membuktikan keislamannya dan untuk menyampakikannya kepada Allah, bagaimana dengan manusia, apakah ia harus memiliki dan melalui garis orbit juga? Pasti! Kalau dalam ber-Islam kepada Allah mekhluk lain memiliki garis edar (jalan) yang mesti dilaluinya. Rotasi kehidupan manusia adalah berangkat untuk kembali menuju Allah SWT.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (dari Allah dan akan kembali kepada Allah)".

Kalau tujuan perjalanan hidup manusia adalah menuju Allah, maka adakah sebarang jalan (orbit) yang akan bisa menyampaikannya kepada Allah? Tentu tidak! Tentu hanya jalan yang terkait dengan Allah, yang menuju Allah, yang akan menyampaikannya kepada Allah. Manusia tidak akan pernah sampai kepada Allah kalau ia tidak memiliki dan menempuh jalan yang menghantarkannya kepada Allah.

Untuk kepentingan ibadah, ber-Islam dan bersujud secara benar, Allah SWT telah memberikan satu jalan (orbit) yang mesti dilalui oleh manusia, yaitu sabilillah. Kalu manusia tidak melewati garis ini dalam ber-Islam, sesunggunya ia telah berada pada orbit yang salah. Berada pada orbit yang salah berarti keluar dari jalur keislaman. Dan keluar dari jalur keislaman berarti bukan seorang Muslim. Jadi, keislaman yang dikehendaki oleh Allah dengan pertanyaanya di muka adalah keislaman yang berada pada jalan (orbit) yang benar, yaitu sirotol mustaqim. Fahal antum Muslimun?

Perhatikan ayat berikut:

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya, yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa". (QS. Al-An’am [6] : 153)

Ayat ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dengan sangat gamblang dalam bentuk garis sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan Jabir ra:

"Kami duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau membuat garis lurus di depannya, lalu berkata, 'Ini adalah jalan Allah'. Kemudian beliau membuat dua garis di kanan dan dua gafis di kiri lalu berkata, 'Ini adalah jalan setan'. Kemudian beliau meletakan tangannya di garis tengah lalu membacakan ayat berikut, 'Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa'." (Musnad Ahmad No. 14739; Sunan Ibnu Majah)

Secara garis lurus, Allah telah menyediakan satu jalan (orbit) bagi menusia untuk ber-Islam menuju Allah. Jalan itu adalah Nabi dan Rasulnya. Karenanya, manusia tidak akan pernah sampai kepada kataatan kepada Allah SWT kecuali melalui jalan ini, karena tidak ada jalan lain yang diciptakan oleh Allah sebagai jalan ber-Islam menuju kepada-Nya.

Kerasulan sebagai orbit manusia satu-satunya menuju Allah, telah secara terus menerus dimunculkan oleh Allah dengan dikirimnya para Nabi dan rasul secara sambung menyambung, sepanjang masa. Dari Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad SAW. Inilah jalan itu, inilah jalan Islam, inilah jalan yang mesti dilalui oleh manusia dalam bersujud kepada Allah SWT. Tidak ada jalan diluar jalan Nabi dan Rasul.

"Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah, dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka". (QS. An-Nisa [4] : 80)

Semua Nabi telah menegaskan hakekat jalan ini. Nabi Nuh as telah menegaskan jalan ini kepada kaumnya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an: "Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku". (QS. Asy-Syu’ara [26] : 107-108)

"Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku". (QS. Asy-Syu’ara [26] : 125-126)

Tetapi kenabian dan kerasulan telah ditutup Allah dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW, dengan firman-Nya: "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu. Tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-Nabi, dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu". (QS. Al-Ahzab [33] : 40)

Yang menjadi masalah adalah, apakah dengan berakhirnya kenabian ini berarti terputus pula orbit bagi manusia untuk ber-Islam menuju Allah?

Tidak! Allah menyambung jalan itu denga khilafah, sehingga dengan adanya khiafah jalan menuju Allah tetap terbentang, dan manusia tetap dapat beribadah kepada Allah, manusia tetap bisa bersujud kepada Allah bersama sujudnya semesta alam pada orbit yang benar. Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, "Adalah bani Israil kepemimpinan mereka selalu dipegang oleh Nabi-Nabi. Setiap meninggal seorang Nabi maka Nabi itu digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya tak ada lagi Nabi sesudahku, yang ada hanya para khalifah yang banyak jumlahnya." para sahabat bertanya, "Apakah yang engkau suruh kami kerjakan?" Nabi menjawab, "Sempurnakanlah bai’at yang telah engkau berikan kepada yang pertama. Kemudian yang datang sesudahnya. Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada mereka tentang apa yang Allah suruh kepada mereka". (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda, "Sesunggunya aku memerintahkan kepadamu dengan lima perkara sebagaimana Allah memerintakan kepadaku, yaitu: berjama’ah, mendengar, taat, hijrah dan jihad fi sabilillah. Karena sensunggunya siapa yang keluar dari jama’ah barang sejengkal, maka sungguh telah lepas ikatan Islam dari lehernya sampai dia kembali (bertaubat) dan barang siapa yang berseru dengan seruan jahiliyah, maka ia bertekuk lutut dalam neraka jahanam." Sahabat bertanya, "Sekalipun dia puasa dan shalat, ya Rasulullah?". Jawab Nabi SAW, "Sekalipun dia puasa dan shalat dan sekalipun dia mengaku Muslim. Maka serulah orang-orang Islam dengan nama mereka yaitu Aa-Muslimuun, Al Muslimuun, hamba-hamba Allah Azza wa jalla". (Sunan At-Turmudzi No. 2790; Musnad Ahmad No. 16542, 17132, 21835)

Jama’ah adalah esensi khilafah, orbit ber-Islam satu-satunya yang terbentang menuju Allah. Dalam sunnah Rasulullah di atas ditegaskan: "Sekalipun shalat, sekalipun puasa, bahkan sekalipun mengaku Muslim", tetapi tidak berorbitkan dengan orbit jama’ah adalah sia-sia. Tetapi kini kebanyakan manusia telah keluar dari orbit ini, mereka ber-Islam bukan dengan orbit Islam, mereka ber-Islam tetapi melalui orbit lain. Kalau demikian apakah mereka dapat dikatakan sebagai Muslim?

Mau tahu lebih detail dan mengkaji lebih dalam? Beli bukunya dan ikuti kajiannya. Assamu'alaykum wr wb :)


NoteGuestbook
   
aabuah wrote on Sep 9, '11
thanks......................
aabuah wrote on Jun 17, '11
wassalamu'alaikum wr.wb. salam ta'arruf...........
sumart74 wrote on Jun 12, '11
Numpang memetik buah,assalamu,alaikum,wr,wb.Salam kenal.
alhikmahjakarta wrote on Mar 2, '11
diundur mei ? bukankah 10-12 mei 2011 itu utk sd, sedang smk dan smp tetap di april 2011, 18 - 21. dan 25 - 28. bukankah begitu? diundur tgl brp jadinya.
aabuah wrote on Oct 25, '10
amiin.....................
muslimyouthsmasa wrote on Oct 10, '10
assalamau'alaikum, semoga Allah mengampuni kita semua dan merahmati setiap langkah kita
aabuah wrote on Jul 25, '10
alaikum salam, gimana kabar?
aabuah wrote on Jul 25, '10
alaikum salam moga kita bisa berteman lillah, amiin.................
aabuah wrote on Jul 25, '10
Alaikum salam, ya moga kita bisa berteman lillah amiin.............
putrithifan wrote on Jul 10, '10
assalamu'alaikum...salam kenal pak..sdh lama jadi temen kontak tp saya baru sempat mampir..:)
yauyang wrote on Jun 6, '10
alaikum salaam
zaiss wrote on May 13, '10
assalamualakum
aabuah wrote on Apr 7, '10
thanks banget infonya moga manfaat, amin ..................
thiyarenjana wrote on Apr 6, '10
wlkmslm w2...

Wuah.. saya memodifikasi themes dari hasil googling tutorial dan nodong para suhu MP-ers aja, Kak...

Silahkan cari themes gratisan dulu, misalnya di http://catatanhatta.multiply.com/
dan lalu bagian-bagian yg ingin seperti punya saya bisa ditanyakan lagi ke saya.. Kalo ada kesulitan, insya Allah saya bantu cari jalan keluarnya...
dan juga, Kakak bisa gabung di grup http://trickmp.multiply.com/
aabuah wrote on Feb 22, '10, edited on Sep 28, '10
Assalamu'alaikum wr. wb. Sahabatku, kadang hidup ini terasa asing dan aneh bagi kita, sesuatu bisa terjadi di luar dugaan dan logika. Oleh karena itu kita harus waspada dan siap menerima apapun keadaan yang terjadi. Jangan menyalahkan siapa-siapa, kembalikan pada diri sendiri, koreksi diri, dan jangan lupa konsultasi dengan Sang Khaliq Allah Tuhan Yang Maha Segalanya. Insyaallah dengan begitu kita akan semakin percaya diri dalam menghadapi semua permasalahan hidup yang memang tidak ada akhirnya sebelum kita sendiri dipanggil oleh-Nya. Wallahu a'lam........ Wassalamu'alaikum wr. wb.

munawar syarkawi

Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain...........